banner 728x250

GAMBARAN SADIS NASIB HEWAN LANGKA, Harimau Sumatera Ditangan MAFIA SATWA

  • Bagikan
banner 468x60

Perdagangan Satwa liar marak terjadi 

Kejaksaan Negeri Aceh Timur serahkan BB ke BKSDA

Pada saat Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh Timur mengembalikan barang bukti (BB) perkara perdagangan satwa dilindungi ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh. Pengembalian dan penyerahan berlangsung di Kantor Kejari Aceh Timur di Idi, Selasa (13/10) terlihat betapa sadisnya para pelaku pemburu penjualan dan pembeli satwa langka tersebut.

Hadir antara lain Kajari Aceh Timur Abun Hasbullah Syambas, SH, MH, didampingi Kasi Pidum Ivan Najjar Alavi, SH, Kasi Barang Bukti Hanita Azriza, SH, dan Kasi Intel Andi Zulanda, SH. Hadir juga Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fajar Adi Putra, SH. Sementara pihak Balai KSDA Aceh dihadiri, drh. Taing Lubis selaku ahli satwa dilindungi.

Kepala Kejari Aceh Timur, Abun Hasbulloh Syambas, MH, dalam kesempatan itu mengatakan, pengembalian barang bukti ke Balai KSDA Aceh menyusul inkrahnya kasus perdagangan satwa dilindungi. Keempat tersangka juga sudah menerima putusan Pengadilan Negeri (PN) Ididengan vonis masing-masing terdakwa 3 tahun penjara.

“Awalnya kita masih pikir-pikir, namun karena melihat putusan sudah diatas 2/3 dari tuntutan, maka kita juga menerima dengan putusan majelis hakim,” kata Abun seraya berharap, masyarakat untuk tidak lagi memburu dan memperdagangkan satwa dilindungi, baik harimau sumatera, beruang madu, gajah, dan orangutan.

Koordinator Ahli Satwa Liar BKSDA Aceh, drh. Taing Lubis, mengapresiasi tuntutan JPU dalam kasus perdagangan satwa dilindungi dengan yakni Empat tahun enam bulan terhadap masing-masing terdakwa. “Tuntutan dan putusan aparat penegak hukum ini kita nilai sudah maksimal. Muda-mudahan akan memberi efek jera terhadap keempat pelaku yang terlibat dalam aksi perdagangan kasus satwa dilindungi ini,” kata Taing Lubis.

Diharapkan kasus serupa tidak terulang di Aceh khususnya di Kabupaten Aceh Timur. “Perburuan harimau sumatera masih terjadi di Aceh dan sebagian besar kulit dan tulang belulang harimau ini dijual ke luar Aceh dengan harga yang menggiurkan. Namun harapan kita aksi perburuan dan perdagangan satwa dilindungi inu tidak lagi terulang. Muda-mudahan kasus ini menjadi kasus yang terakhir di Aceh Timur,” demikian Taing Lubis. 

Kami berharap Semoga aparat penegak hukum dapat memberantas seluruh jaringan perdagangan hewan langka.

Saksikan videonya disini

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *